Selasa, 11 November 2014



NAMA    :  WALBERTUS M. L. HIKON 
KELAS     :  A

          Seperti yang telah kita pelajari, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos (gemar, senang atau cinta) dan Sophia (kebijaksanaan atau kearifan). Jadi, bisa dikatakan filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan. Mengapa harus bijaksana?? Karena seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil suatu keputusan. Belajar filsafat berarti berusaha untuk mengetahui segala sesuatu sedalam – dalamnya, mulai dari akar masalahnya sampai pada pemecahan masalahnya.
Dalam filsafat juga dapat dikaji beberapa pokok utama, yaitu ; logika (tentang benar dan salah), etika (tentang baik dan buruk) dan estetika (tentang indah dan jelek).
          Dalam filsafat juga dipelajari tentang administrasi. Secara etimologis, administrasi (1) berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata “ad” dan “ministrate” yang berarti “to serve” atau dalam bahasa Indonesia berarti melayani (memenuhi).
(sumber : Harbani Pasalong , 2010. Teori Administrasi Publik, Penerbit Alfabeta, Bandung).
(2) berasal dari bahasa Inggris (administration) yang bentuk Lufinitifnyalah “to administer” yang berarti mengelola , menggerakan.
(sumber : Ulbert Silalahi, 1989, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung).
(3) berasal dari bahasa Belanda (administratie) yang berarti Tata Usaha (Crecicar Work, Office Work).
(sumber : Ulbert Silalahi, 1989, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung).
Jadi, administrasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas efektif, efisien dan rasional untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Kompetensi yang akan saya bentuk adalah dengan melihat gaya kepemimpinan seorang leader dalam menjalin kerjasama dengan followernya demi suatu tujuan. 
Jika melihat karakter seorang leader bila dikaitkan dengan teori X, Y dan Z.
Leader yang menganut teori X, biasanya malas dan tidak bertanggungjawab serta cenderung berpikiran negatif sehingga kurang disukai followernya. Akibatnya hubungan antara leader dengan follower tidak terjalin dengan baik dan tidak mempunyai tujuan yang jelas.
Leader yang menganut teori Y, biasanya tanggungjawab, kerja keras, suka tantangan dan selalu berpikiran positif serta disukai followernya. Sehingga hubungan leader dengan follower terjalin dengan baik demi suatu tujuan bersama.
Leader yang menganut teori Z, biasanya dapat mempunyai pikiran negatif dan dapat pula mempunyai pikiran positif karena pada teori Z merupakan gabungan dari teori X dan teori Y. Akibatnya, terkadang mencapai tujuan dan terkadang tidak mencapai tujuan.

          Adapun teori lain yang saya ambil adalah latar belakang munculnya pemimpin.
Latar belakang munculnya pemimpin dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1.    Faktor Genetik, merupakan faktor yang berasal dari keturunan seorang pemimpin.
Contoh : dalam keluarga ayah sebagai pemimpin.
2.    Faktor Sosial, faktor yang terjadi karena adanya proses pembelajaran baik formal maupun non-formal dengan interaksi bersama orang lain.
Contoh : Presiden sebagai pemimpin Negara, gubernur sebagai pemimpin provinsi, camat sebagai pemimpin kecamatan dan seterusnya.
3.    Faktor Ekologi, faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Kesimpulannya, semua teori baik adanya hanya tergantung pada situasi dan bagaimana seorang leader dapat mempengaruhi follower agar mau melakukan kerjasama demi suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Selasa, 04 November 2014

Nama              : Walbertus Mariano Lado Hikon
Prodi               :  Ilmu Administrasi Negara
Fakultas         :  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Mata Kuliah  :  Filsafat Administrasi
Kelas              :  A


Filsafat Administrasi sangat penting bagi saya karena melalui mata kuliah ini, saya dapat mengetahui gaya, tipe dan teknik kepemimpinan seperti otoriter ( Teori X ), liberal (Teori Y) dan demokrasi (Teori Z ).


Teori X
        Orang yang menganut tipe kepemimpinan teori X biasanya menentang kerja dan bersifat malas. Oleh karena itu, mereka harus diberi motivasi atau rangsangan dari luar juga pengarahan yang bersifat keras, hukuman banyak dilakukan terhadap pelanggaran, pengontrolan harus dilakukan secara ketat, dilakukan cara memimpin yang otoriter, sentralistis dan tindakan yang tegas agar adanya rasa tanggungjawab terhadap suatu pekerjaan.

Teori Y
         Orang yang menganut tipe kepemimpinan teori Y biasanya ingin mencari dan merasakan persahabatan, hubungan saling membantu orang lain dan sangat kreatif dalam melakukan suatu pekerjaan atau organisasi.

Teori Z
      Orang yang menganut tipe kepemimpinan teori Z biasanya dalam kondisi kerja yang baik, maka pengarahan yang dilakukan sebaiknya mengambil segi baik dari teori X dan teori Y.
Dimana seorang pemimpin harus menggunakan cara halus, hanya ada sedikit pengontrolan, memerintah dengan sikap permintaan, saran ataupun sukarela, lebih bersifat  menanyakan daripada menegur, pada lain kesempatan seorang pemimpin harus berani bertindak tegas, melakukan kontrol secara  ketat, memberikan perintah yang tegas, menyalahkan dan bahkan bila terpaksa harus berani menghukum sesuai dengan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya.
Baik secara halus maupun secara tegas, kedua-duanya dilandasi suatu harapan bahwa tujuan organisasi atau pekerjaan dapat tercapai dengan baik. 

        Kesimpulannya, semua tipe kepemimpinan diatas baik teori X, Y ataupun Z selalu baik adanya, semuanya tergantung situasi.