NAMA :
WALBERTUS M. L. HIKON
KELAS : A
Seperti
yang telah kita pelajari, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos
(gemar, senang atau cinta) dan Sophia (kebijaksanaan atau kearifan). Jadi, bisa
dikatakan filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan. Mengapa harus bijaksana??
Karena seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil suatu keputusan. Belajar
filsafat berarti berusaha untuk mengetahui segala sesuatu sedalam – dalamnya,
mulai dari akar masalahnya sampai pada pemecahan masalahnya.
Dalam filsafat juga dapat dikaji
beberapa pokok utama, yaitu ; logika (tentang benar dan salah), etika (tentang
baik dan buruk) dan estetika (tentang indah dan jelek).
Dalam
filsafat juga dipelajari tentang administrasi. Secara etimologis, administrasi (1)
berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata “ad” dan “ministrate” yang berarti
“to serve” atau dalam bahasa Indonesia berarti melayani (memenuhi).
(sumber : Harbani Pasalong , 2010.
Teori Administrasi Publik, Penerbit Alfabeta, Bandung).
(2) berasal dari bahasa Inggris
(administration) yang bentuk Lufinitifnyalah “to administer” yang berarti
mengelola , menggerakan.
(sumber : Ulbert Silalahi, 1989,
Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung).
(3) berasal dari bahasa Belanda
(administratie) yang berarti Tata Usaha (Crecicar Work, Office Work).
(sumber : Ulbert Silalahi, 1989,
Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung).
Jadi, administrasi dapat
didefinisikan sebagai keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih
yang didasarkan atas efektif, efisien dan rasional untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan sebelumnya.
Kompetensi yang akan
saya bentuk adalah dengan melihat gaya kepemimpinan seorang leader dalam
menjalin kerjasama dengan followernya demi suatu tujuan.
Jika melihat karakter
seorang leader bila dikaitkan dengan teori X, Y dan Z.
Leader yang menganut teori X,
biasanya malas dan tidak bertanggungjawab serta cenderung berpikiran negatif
sehingga kurang disukai followernya. Akibatnya hubungan antara leader dengan
follower tidak terjalin dengan baik dan tidak mempunyai tujuan yang jelas.
Leader yang menganut teori Y,
biasanya tanggungjawab, kerja keras, suka tantangan dan selalu berpikiran
positif serta disukai followernya. Sehingga hubungan leader dengan follower
terjalin dengan baik demi suatu tujuan bersama.
Leader yang menganut teori Z,
biasanya dapat mempunyai pikiran negatif dan dapat pula mempunyai pikiran
positif karena pada teori Z merupakan gabungan dari teori X dan teori Y.
Akibatnya, terkadang mencapai tujuan dan terkadang tidak mencapai tujuan.
Adapun
teori lain yang saya ambil adalah latar belakang munculnya pemimpin.
Latar belakang munculnya pemimpin dipengaruhi
oleh 3 faktor, yaitu :
1.
Faktor Genetik, merupakan faktor yang
berasal dari keturunan seorang pemimpin.
Contoh : dalam keluarga ayah sebagai pemimpin.
2.
Faktor Sosial, faktor yang terjadi karena
adanya proses pembelajaran baik formal maupun non-formal dengan interaksi
bersama orang lain.
Contoh : Presiden sebagai pemimpin Negara, gubernur sebagai
pemimpin provinsi, camat sebagai pemimpin kecamatan dan seterusnya.
3.
Faktor Ekologi, faktor yang
dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Kesimpulannya, semua teori baik
adanya hanya tergantung pada situasi dan bagaimana seorang leader dapat
mempengaruhi follower agar mau melakukan kerjasama demi suatu tujuan yang telah
ditetapkan bersama.